Pages

Thursday, July 1, 2010

AGAR ANAK CEPAT HAFAL AL-QUR'AN

Selepas solat Isya’ sambil menggendong anak kedua saya yang berumur enam bulan, saya sempatkan untuk meneruskan mengetik artikel yang dari kemarin tidak selesai dikarenakan setiap buka komputer pasti anak-anak sudah langsung menyerbu rebutan memakai komputer. Mereka sibuk minta nonton kartun lah, latihan ngetik lah, nanya ini-itu lah, liat foto lah... Fuyoooohh…

Sambil mengetik saya pasang CD murotal al-Qur’an yang kebetulan sampai surat al-Waqiah. Zahra, si sulung asyik bermain boneka dibelakangku. Tiba-tiba ketika bacaan al-Waqi’ah sampai ke ayat kesepuluh Zahra nyeletuk membaca ayat kesebelas, “ulaaikal muqorrobuun” dengan suara pelatnya. Kontan saya terkejut. Lho...dah hapal mendahului suara Qari’nya...Mulutku masih menganga belum selesai terkejut Zahra dah mendahului dengan...“..Na’iim...” kemudian “...Waliin...”, “..Khoriin...”, “duunah...”, “Biliin...”, hafal penghujung ayat-ayatnya saja.

Fatimah el-Zahra, 2,5 tahun, memang lagi penasaran-penasarannya mempelajari sesuatu yang baru. Sampai saya kewalahan dan kadang jengkel dibuatnya. Saya tidak heran kalau sekarang dia sudah hafal surat Al-Fatihah, alphabet A sampai Z, one hingga twenty, Wahid hingga ‘Asyrah, Alif hingga Ya, nama hewan dan buah-buahan..karna memang saya ajarkan. Tapi al-Waqiah...., saya belum pernah mengajarkannya, karna saya fikir itu masih berat untuknya, fikir saya akan diajarkan bertahap dikemudian hari.

Sekedar hafal ujung-ujung ayat surat al-Waqiah mungkin bukan hal yang luar biasa. Tak sehebat Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba’I dari Iran yang diumur 5 tahun sudah hafal seluruh Al-Quran, yang dengan mudah menafsirkannya juga, yang berhasil memperoleh gelar Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh. Tidak juga sehebat Askrit Jaswal dari India yang menjadi mahasiswa dan dokter bedah termuda dalam sejarah. Tak semencengangkan seperti Mozart yang telah mengcompose lagu pertamanya pada usia 5 tahun. Tak seperti William James Sidis yang sudah dapat membaca pada usia 18 bulan.

Pengalaman ini saya tulis bukan karena saya ingin membanggakan anak sendiri, ataupun ingin mengatakan bahwa Zahra hebat. Tidak. Zahra adalah anak yang lumrahnya anak kecil sebayanya namun punya keinginan kuat untuk selalu belajar. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa anak kecil ingatannya luar biasa sehingga kita harus maksimalkan potensinya semaksimal mungkin.

Begitu pula dengan Zahra. Akhir-akhir ini sambil mengetik saya selalu mendengarkan al-Qur’an dari komputer. Namun dalam CD itu hanya surat al-Waqi’ah, Luqman, Sajdah dan al-Mulk saja yang ada. Tanpa saya sadari, sambil bermain di belakang saya memori Zahra menangkap sedikit demi sedikit ayat-ayat dari surat-surat al-Qur’an tersebut.

Pasti kita sudah berkali-kali membaca artikel tentang pertumbuhan otak bayi yang begitu cepat, sehingga proses dari 0-3 tahun disebut sebagai milestones atau tonggak bersejarah dalam perkembangan anak. Dia bagaikan sponge yang akan meniru dan menyerap apa saja informasi yang dia lihat ataupun dia dengar. Dia juga bagaikan rekaman yang terus berputar merekam apa yang terjadi di sekelilingnya. Serta bagaikan kertas putih yang dapat ditulisi apa saja.

Menurut penelitian ilmiah, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan. Waktu di kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang. Emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu dan makanan yang dikonsumsi Ibu akan sangat mempengaruhi perkembangan otak anak di dalam kandungan sehingga peneliti menganjurkan para ibu untuk menstimulasi otak janin dalam kandungan dengan memperdengarkan musik Mozart ataupun Beethoven untuk mencerdaskan anak.

Dalam Islam bahkan mendidik anak dimulai sejak Anda memilih pasangan hidup Anda. Ini dikarenakan memilih pasangan hidup berarti Anda memilih mau seperti apa anak Anda, bagaimana Ayah/Ibu yang akan mendidiknya, atau bahkan kemungkinan sifat atau kepandaian seperti apa yang akan dimiliki anak Anda. Seperti hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: “Takhoyyiruu li nuthfikum” yang artinya “pilihlah istri yang sesuai untuk benih-benih kamu (anak).”

Didikan awal ini penting sekali bagi memastikan pembentukan karakter anak. Mempunyai anak cerdas, sehat dan berkualitas sememangnya menjadi dambaan setiap orangtua. Untuk merealisasikannya diperlukan stimulan-stimulan perangsang kerja otak sejak dini. Rangsangan akan membantu pembentukan cabang-cabang sel otak dan melipatgandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga terbentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Pemberian rangsangan ini akan membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secara optimal.

Ayah dan ibu harus sama-sama komitmen untuk ikut serta terlibat dalam mendidik anak karena lingkungan sekitar yang positif akan mempengaruhi anak. Anak kita merupakan cerminan dari kita. Ia menyerap semua yang ada di sekitarnya. Sikap dan tingkah laku mereka adalah hasil didikan kita secara sadar maupun tidak. Benarlah pepatah “Children see, children do”, anak-anak melakukan apa yang mereka lihat. Jadi bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi lebih kepada apa yang kita lakukan. Sedangkan yang dilihat dan ditirukan oleh anak tiap hari sedari mereka lahir adalah kita.

Kita hendaklah membesarkan anak kita menjadi khalifah Allah yang sukses dengan berusaha untuk mencontohkan hal yang baik dan menghindarkannya dari pengaruh negatif yang akan menjauhkannya dari Allah. Mumpung otaknya tengah berkembang pesat maka biasakanlah sejak dini untuk memupuk minat belajar dan menghafal al-Qur’an. Perdengarkanlah al-Qur’an sekerap mungkin kepada anak kita.

Pepatah mengatakan “melentur buluh biarlah dari rebung”, atau dalam bahasa Inggrisnya "it’s better to bend the willow when it is young" yang bermaksud lebih baik mendidik anak sejak dini. Sesungguhnya hatinya bening bagaikan mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal- hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pendidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Jadilah contoh muslim teladan bagi anak-anak kita. Tanamkan bibit agama agar dapat sukses dunia akhirat.

Walaupun fungsi Ayah Ibu sebagai pendidik nampak berat dan memerlukan kesungguhan serta kesabaran namun itu adalah suatu nikmat yang tak terkira. Ini disebabkan salah satu amanah dan harta peninggalan yang berterusan pahalanya ialah anak yang sholeh. Mereka akan mewarisi apa yang kita tinggalkan dan menyambung kehidupan dan peradaban manusia. Peranan mereka amat besar karena mereka akan menjadi khalifah Allah di atas muka bumi ini.
Malam semakin larut, saya terus kletak-kletuk memencet keyboard diiringi Zahra yang lagi ngafalin ujung surat Luqman. “Kafuur…syai’aa…ghoruur…, ghodaa…, khobiir…, shodaqallahul adziim”. Semoga Allah panjangkan umur kita Nak… Jadilah penghafal pengamal dan penebar al-Qur’an.



No comments:

Post a Comment